Dimana tongkat tuah berdiri ?
Adakah masih tegak
diatas tanah yang terjanji ?
Ditiap tapak hutan yang semakin renggang
ada sejarah yang tersembunyi
tersekat didalam naskah
Adat lama berseru dalam bisik lembut
“kembalikan hak yang tergadai,
pulangkan ke pangkuan asal”
Kuasa yang terlempar mesti kembali
ketempat yang semestinya
ketangan yang tahir
Pagar nagari mulai retak
ketika tanah yang kau pijak
dilepas tanpa salam
dirampas tanpa bicara
Engkau pusek jalo pumpunan ikan
yang diam dalam kebisuan
tak kau dengar jerit dari bawah ?
tanah ini bukan sekadar tumpuan kaki
Bersuaralah sebelum lidahmu kaku
sebelum ulayat menjadi dongeng anak cucu
dibawah langit nagari yang kian redup
ada hukum alam yang tak bisa kau tolak
segala yang terlempar harus kembali
Kuasa yang kau lepas dari tangan
adat yang kau cabut dari akar
saatnya kau renggut kembali
Tanah ini tak lagi milik anak cucu kemenakanmu
melainkan jadi tanah yang terlupakan
hilang dan musnah
Jika kuasa harus kembali
kembalikan kepada yang berhak
agar ulayat tak sekedar kaba
dan adat berdiri seiring dengan agama
Ada rahasia yang harus kau pecahkan
jangan kau tanya angin arah jalan pulang
sebab ia hanya menyapu debu
yang sejati tahu arah kembali
tanpa harus bertanya
Kuasa yang kau genggam
hanya jadi bayang semu
tak pernah kau pertahankan
Dimana engkau berdiri
saat hutan dibabat ?
saat tanah dikeruk ?
saat bukit dicabik besi ?
Ingatlah, nan gadang basa batuah
leluhur di tanah ini
akan bangkit, mempertanyakan
“dimanakah sumpah,
dimanakah hutang nan ampek
yang kau ikat atas nama pusako ?”
Tanah yang kau biarkan tergadai
adalah khianat
yang kau ukir dengan tanganmu sendiri
jangan biarkan kecuaianmu
menjadi warisan
yang disumpah serapah
anak cucu kemenakan
Jika hari ini kau tak berdiri tegak
besok kau hanya akan menjadi bayangan
dari sejarah yang lenyap
jika kuasa tak lagi kau genggam
nagari ini akan jadi saksi bisu
kehancuran yang kau biarkan terjadi
Kembalikan hak pada yang berhak
tak usah kau sorong diujung lidah
cukup tersembunyi dibalik telunjuk
sebab yang tahu, akan datang mencari
yang lalai, akan tersesat dijalannya sendiri
Dibalik ombak
ada riak yang tak terlihat
hanya yang tahu arus
yang bisa membaca
dimana akhir dan mula bertemu
Jika kau mengerti
kau akan tahu
tak semua yang tampak hilang
telah pergi
dan tak semua yang tertinggal
dapat ditemukan
Engkau nan tahu dibayang kato sampai
tak perlu banyak bicara
cukup pandang bayang dalam air
dan kau akan mengerti
segala yang hilang
harus pulang
segala yang tergelincir
harus ditegakkan kembali
Afandi Aba, Oktober 2024
Baca karya puisi lainnya dari penulis ini : Puisi-Puisi Afandi Aba


Menyala bait-bait aba