Puisi-puisi Afandi Aba

Afandiaba By Afandiaba
3 Min Read

Kumpulan Puisi Afandi Aba

Riuh Angin Pesisir

Riuh angin pesisir memberi kabar,
para nelayan kehilangan akal, alat tangkapnya dianggap ilegal
Riuh angin pesisir memberi kabar,
ikan sungai tak tentu arah, sebab dihulu tercemar limbah

Riuh angin pesisir memberi kabar,
hutan bakau dibabat habis, akan dijadikan lahan bisnis
Riuh angin pesisir memberi kabar,
satwa liar masuk pemukiman sebab rimba tak lagi aman

Riuh angin pesisir memberi kabar,
hutan lindung dijadikan tambang, dihancurkan demi uang
Riuh angin pesisir memberi kabar,
tuan tanah berebut tanah berlomba menjadi manusia serakah

Riuh angin pesisir memberi kabar,
anak nagari kehilangan tokoh sebab tongkat membawa roboh
Riuh angin pesisir memberi kabar,
orang besar yang bertuah sekarang sudah kehilangan marwah

Riuh angin pesisir memberi kabar,
yang tahu dengan gelagat siang malam hanya berdebat
Riuh angin pesisir memberi kabar,
suluh penerang dalam nagari pelitanya redup tak menerangi

Riuh angin pesisir memberi kabar,
nagari sudah telanjang sebab tak lagi berpagar undang
Riuh angin pesisir memberi kabar,
yang tak lekang oleh panas tak lapuk karena hujan, kini berlumut karena cendawan

Minangkabau, Maret 2019

Bisikan Hujan

Tersentak ku dalam diam
Rintik hujan berbisik pelan
Kau pembunuh asa
Mematikan rasa

Kau datangkan kecewa
Timpakan derita
Kau nodai kasih
Ciptakan perih

Kau lukai hati
Hancurkan mimpi
Tersentak ku dalam diam
Rintik hujan berbisik pelan

Kau begitu kejam
Tak pantas dipelukan malam

Minangkabau, April 2019

Langkah Kematian

Satu langkah benih bertumbuh
Dua langkah mengakar tanah
Tiga langkah mekarkan asa
Empat langkah berbunga rindu
Lima langkah merah merekah
Enam langkah tertusuk duri
Langkah terhenti, Mati

Minangkabau, April 2019

Menolak itu Mahal

Wajah-wajah itu tak mau tunduk
Pundaknya pun tak lagi membungkuk
Suaranya terdengar keras mengutuk
Tapi sang hati busuk tak terketuk

Dengan kepalan tangan kiri
Meninggalkan anak istri
Meniggalkan rantang dan suami
Mencari hak atas kemerdekaan diri

Ooh.. Lihatlah mereka
Manusia penuh derita
Membayar mahal perjuangannya
Untuk berkata “tidak” kepada penguasa

Berapa banyak tenaga yang terbuang ?
Berapa banyak waktu yang hilang ?
Berapa banyak uang yang melayang ?
Semuanya sudah tak terbilang

Ini hanya untuk menolak
Menolak kebijakan tuan yang disinggasana
Ini hanya untuk mendapatkan hak
Hak yang disimpan dalam perut penguasa

Riau, Juli 2016

Rahasia Malam

Malam menyudahi ceritanya
Ketika sang fajar bangkit dari pembaringan
Aku tidak pernah tahu apa yang dirasakan oleh malam
Ketika sang fajar menyingsing dari timur
Menyinari gelap malam
Menyudahi cerita kelam
Apakah malam merasa kecewa
Karena terang telah melepaskan pelukan gelap terhadap alam
Atau apakah malam merasa bahagia
Ketika sang fajar bangkit menyudahi malam
menyinari seluruh alam

Riau, Oktober 2017

Share this:

Share This Article
Leave a Comment